kamu tidak akan tahu dimana menemukan film bagus. begitu juga saya, barangkali. 

film ini saya tonton dalam perjalanan kereta api bandung menuju gambir. wow. biasanya kereta ini hanya memutar film laga dengan bintang hollywood Sylvester Stallone. tapi kali ini sebuah film berbahasa perancis. dan bahkan cukup bagus. saya tak jadi tidur dalam perjalanan, krn mengikuti ceritanya.

Yamakasi adalah sekelompok pemuda di Paris yg terdiri dari 7 orang yang memiliki kemampuan atletik dan memanjat luar biasa. mereka tidak percaya dengan gravitasi. pekerjaannya adalah mendaki gedung2 tanpa alat bantu.

suatu kali mereka memanjat sebuah apartemen berlantai 24. sampai diatas mereka menikmati matahari turun senja. polisis lalu datang mengepung, namun dengan kelincahan mereka berlari, melompat, memanjat, mereka dapat lolos. polisi kesal, karena mereka mengganggu ketenangan warga. sekaligus memberi contoh buruk kepada anak2 yg ingin mencontoh mereka dengan banyak memanjat.

konflik dimulai ketika Djamel, seorg anak kecil terjatuh dari pohon akibat meniru tindakan Yamakasi. jantungnya harus dicangkok. dan untuk itu dibutuhkan biaya besar. nyawa Djamel hanya tersedia hingga jam 12 siang esok harinya. ditengah frustasi keluarga Djamel, Yamakasi menyelamatkan ibu Djamel yg hendak bunuh diri. Alia, kakak Djamel di lain pihak membenci Yamakasi yg menyebabkan adiknya skearat.

Yamakasi kemudian berniat membantu Djamel mendapatkan biaya membeli jantung dari donor. seorang tokoh polisi, Vincent, membantu mereka. namun terjebak dengan statusnya sebagai penegak hukum.

disatu sisi, Vincent adalah keturunan imigran Arab. sama seperti anggota Yamakasi lainnya yg merupakan imigran Afrika, Arab, hingga Cina. di sisi lain, sebagai penegak hukum dia tak setuju dengan cara Yamakasi untuk merampok rumah 7 org direksi rumah sakit tempat Djamel dirawat, sebagai balas atas ketidakpedulian mereka thd Djamel (bahkan Djamel dikeluarkan dr bangsal dan dirawat di lorong rumah sakit karena kamarnya dibutuhkan untuk merawat pasien lain yg lebih penting).

sebuah quote bagus dari Ousmane Bana, anggota Yamakasi yang dihormati.

“kamu lakukan dengan peraturan, kami lakukan dengan perasaan…”

mereka pun berpacu dengan waktu, merampok rumah 7 org direksi tersebut. sementara Vincent mencoba melewati birokrasi untuk mendapat simpati. saat merampok rumah terakhir Yamakasi terjebak. polisi mengepung mereka. namun dengan sangat luar biasa mereka masih mampu lolos dengan 60 ribu franc.

sayang, begitu uangnya diberikan, waktu menunjukkan pukul 12.10. dan pihak lain sudah menawar jantung tersebut seharga 10 ribu franc lebih tinggi.

mampukah nyawa Djamel diselamatkan?

Yamakasi memberikan kisah yg tidak biasa, meskipun endingnya juga menjadi datar akibat terlalu banyak kejutan. sehingga ketika waktunya menyelesaikan film, seperti org yg masih ingin menikmati kopi di kafe namun kafenya harus tutup. padahal kopi belum habis.

banyak hal2 dr kehidupan yg tersirat secara tidak langsung. bagaimana sesuatu yg kita nggap tidak berbahaya, namun mengganggu org lain. bagaimana ‘penghargaan’ adalah apa yg membuat kita berarti untuk hidup. dan yg paling jelas, bagaimana sebuah nyawa ternyata dapat dihargai begitu saja.

sebuah bagian yg sangat telak ketika dokter berkata,

“kabar baik! donor yg akan memberi jantung, telah meninggal. artinya ada jantung baru untuk Djamel”

untuk sebuah nyawa diselamatkan, kita harus bersenang hati ada nyawa lain yg lenyap. hidup begitu kejam, bahkan dr segi kemanusiaannya saja.

bumbu humor juga diselipkan. cukup membuat suasana terjaga. begitu juga satir ketika mereka selesai merampok rumah seorg direksi yg sedang mandi, dengan memutar cd keras2. lalu salah seorg Yamakasi mengganti CD tersebut,

“saya harus mengajarinya sedikit budaya…”

lalu pergi menghilang meninggalkan kepanikan sang pemilik.

film ini adalah film yang tak diduga. sebuah pembicaraan kemanusiaan, dari hal yang tidak biasa. cukup menghibur.